Guru (Tak Sekadar) Digugu dan Ditiru


.....

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa?

Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa?

Kita jadi pintar diibimbing pak guru..

Kita bisa pandai dibimbing bu guru..

Guru bak pelita penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara...

Sepenggal syair lagu yang muncul di tahun 90-an tersebut seolah pemantik rasa yang membangkitkan jiwa seiring seiring dengan Peringatan Hari Guru Nasional ke-75 hari ini. Bait lagu itu seolah mampu memutar ulang catatan kehidupan di dunia sekolah yang telah berlalu sieirng waktu. Wajah-wajah guru yang selalu bersama kita di masal lalu kembali hadir meski dalam sekila bayang antara maya dan realita. Tak dipungkiri ingatan masing-masing sangat dipengaruhi dengan kedekatan interaksi guru-gru kita kala itu. Guru di setiap jenjang sekolah yang berbeda kita lalui meninggalkan kesan dan pengalaman yang tak mudah lupa.

Guru identik dengan sosok yang selayaknya menjadi panutan untuk digugu dan ditiru. Guru tetap manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangan.. Menurut Undang-Undang Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1), ada empat komponen yang harus dimiliki guru profesional, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

Pada saat ini guru merupakan profesi yang penuh dengan tantangan, kreativitas dan keteguhan seiring gempuran teknologi serta media sosial di sekitar kita. Tuntutan profesi yang terkait dengan kondisi siswa dan birokrasi harus seiring dijalani. Setiap siswa yang dihadapi datang dari berbagai latar belakang, kemampuan dasar, bakat dan pengalaman. Berbagai kebijakan terkait regulasi pun menjadi kewajiban guru untuk mengakomodasi. 

Mewujudkan cita-cita dan  profesi mulia bukan hal yang mudah, tentu harus diikuti dengan usaha dan perjuangan yang keras. Semakin susah rintangan, maka bekal yang dipersiapkan  harus sesuai dengan medan yang akan dihadapi. Ada 4 hal yang perlu dipersiapkan untuk dapat menjadi guru yang berkompetensi, yaitu kompetensi Pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial seperti tersebut di atas. Namun perlu ada  tiga bekal yang dimiliki guru untuk meneguhkan eksistensi profesi di era milenial ini. Tiga bekal yang dimaksud di sini adalah: (1) kompetensi yang cukup (2) kreativitas yang memadai sehingga gaya mengajarnya bervariasi, dan (3) memiliki sifat ikhlas, keteladanan dan mau mendoakan kesuksesan pada anak didiknya. 

Hal-hal di atas yang diperlukan saat krisis karakter yang membayangi generasi muda saat ini. Gempuran teknologi silih berganti seiring dengan konsumtif media sosial menjadi sesuatu yang masif ketika mereka tidak punya sosok yang inspiratif. Guru memiliki peluang yang besar untuk memberi inspirasi ketika berinteraksi di sekolah. Semoga lelah menjadi berkah. 

Selamat Hari Guru....:)

 

                                                                    Penulis : Sumarjiono

                                                                    Guru Bahasa dan Sastra Indonesia