Putih Abu-Abu Tak Sekadar Seragam Baru


 

Tahun ajaran baru 2020/2021 sudah dimulai. Peserta didik diterima di sekolah baru menemukan lingkungan baru. Masa Pengenalan lingkungan sekolah menjadi saat yang ditunggu. Apalagi kondisi pandemi yang tidak memungkinkan untuk bertemu. Kesan awal bagi peserta didik baru sangat berperan dalam menumbuhkan semangat serta kecintaan pada almamaternya. Bukan sebatas hal-hal fisik yang dibutuhkan siswa namun pola pembelajaran, dan strategi peningkatan prestasi sekolah menjadi bagian yang dinantikan informasi secara global.

MPLS dijadikan sebagai ajang untuk melatih ketahanan mental, disiplin, dan mempererat tali persaudaraan. MPLS juga sering dipakai sebagai sarana perkenalan siswa terhadap lingkungan baru di sekolah tersebut. Baik itu perkenalan dengan sesama siswa baru, senior, guru, hingga karyawan lainnya di sekolah itu. Tak terkecuali pengenalan berbagai macam kegiatan yang ada dan rutin dilaksanakan di lingkungan sekolah.

Tampaknya MPLS saat ini lazim dilaksanakan pada setiap jenjang pendidkan meskipun dengan tata cara dan waktu yang berbeda.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 yang berisi tentang tata cara pelaksanaan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang menghilangkan stigma negatif tentang pelaksanaan masa orientasi siswa yang bersifat perpeloncoan seperti yang dijumpai pada masa lalu. Di dalam Permendikbud tersebut, tidak boleh lagi diadakan kegiatan yang berisi atau menjurus kepada perpeloncoan atau kegiatan lain yang merugikan peserta didik baru. Selanjutnya, yang bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan ini adalah kepala sekolah. Apabila ditemukan pelanggaran-pelanggaran, maka sanksi yang diberikan mengacu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan pada Satuan Pendidikan dan peraturan perundang-undangan lainnya.

Tanpa mengesampingkan MPLS di setiap jenjang pendidikan maka bagi Siswa Menengah Atas harus menyadari pentingnya kegiatan ini. Bagi siswa SMA masa pengenalan lingkungan sekolah ini tidak hanya sekadar mengenal dan tahu seputar sekolahnya. Jenjang Sekolah Menengah Atas menjadi awal bagi siswa untuk menyiapkan diri dalam mempersiapkan jenjang perguruan tinggi. Selain pengenalan lingkungan sekolah, sebaiknya siswa SMA megetahui berbagai jalur penerimaan masuk perguruan tinggi sehingga bisa mempersiapkan sejak dini

Ada 3 jalur penerimaan mahasiswa baru Program Sarjana PTN. Pertama, melalui Seleksi nasional masuk PTN (SNMPTN) dilakukan berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik, nonakademik, dan/atau portofolio calon mahasiswa. Seleksi bersama masuk PTN (SBMPTN) dilakukan berdasarkan hasil UTBK dan dapat ditambah dengan kriteria lain sesuai dengan talenta khusus yang ditetapkan PTN yang bersangkutan. Seleksi lainnya melalui penelusuran prestasi akademik, nonakademik, dan/atau portofolio calon mahasiswa melalui seleksi nilai rapor peserta didik pendidikan menengah atau sederajat yang berasal dari seluruh sekolah di seluruh wilayah Indonesia. Begitu pula denganp restasi nonakademik peserta didik pendidikan menengah atau sederajat. Adapun UTBK didapat dari penilaian tes potensi skolastik tes potensi akademik. Tes potensi skolastik yaitu tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan kognitif yang diperlukan bagi calon mahasiswa yang diprediksi mampu menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Tes kompetensi akademik, yaitu tes yang bertujuan untuk menilai kompetensi lainnya. Sedangkan untuk jalur seleksi lainnya, dilakukan berdasarkan seleksi dan tata cara yang ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi negeri.

Hal inilah yang harus disiapkan oleh siswa memasuki jenjang SMA. Jalur SNMPTN merupakan pilihan bijak untuk berpeluang besar dalam berkompetisi masuk perguruan tinggi. Sejak kelas X harus menyiapkan dan memantau prestasi akademik supaya mendapat kesempatan menggunakan jalur tersebut. Akhirnya kembali pada pribadi masing-masing untuk membuat perencanaan serta strategi belajar agar mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Maka bagi siswa SMA seragam putih abu-abu tak sekadar hanya berganti baju namun ada hal-hal penting yang menyertai langkah menapaki waktu untuk menyiapkan diri menjadi pemenang di masa depan.:)

                                                           Penulis:

                                                           Sumarjiono,S.Pd. Guru Bahasa Indonesia

                                                           SMA Negeri 8 Yogyakarta