Rasionalisasi Rapor


         Bagaimana nilai rapormu, Nak? Sebuah kalimat berisi pertanyaan yang kadangkala disertai intonasi penutur yang memungkinkan multitafsir bagi anak maupun orang di sekitarnya. Kalimat tanya yang mungkin sudah berlalu setelah hari peneriman raport usai. Kamu sudah terima rapor sedang mengamati rapor atau sekadar melihat, menimang akhirnya meletakkan lagi untuk dikumpulkan ke sekolah pada saat masuk nanti. Bahkan tak jarang pada saat dikumpulkan ke sekolah orang tua belum menandatangani sebagai bukti telah ikut mencermati perkembangan belajarmu selama ini. Syukur dan sesal tak bisa dipungkiri setelah waktu dijalani. Adakah yang dimarahi orang tua gegara rapor? Emm...dibalik ya, adakah orang tua yang memarahi anak gegara rapor? Penasaran dengan angka-angka di luar dugaan atau tidak menemukan peringkat yang tidak sesuai harapan. Pada masa pandemi ini sebagian sekolah melaporkan rapor melalui berbagai cara. Hadir ke sekolah dengan protokol kesehatan dan pemabatasan kapasitas, drive thrue, ambil dengan waktu singkat, unduh (download) mandiri atau dikirimkan soft file secara personal.

Seberapa pentingkah rapor? Representasi angka dalam rapor sampai saat ini masih kontroversi bagi pengamat pendidikan. Sebagian tak peduli dari mana rapor itu, tak jarang ada yang saling menyalahkan gegara rapor. Menyalahkan anak, guru, kebijakan lembaga dan pemerintah. Heboh rapor di negeri kita. Setelah sekian tahun berlalu kita pun memiliki rapor. Dulu rapor ditulis tangan dan sekarang berupa cetakan karena perkembangan teknologi. Turun temurun komponen isi tetap sama hanya format berbeda. Rapor dengan angka masih diperlukan selama standar akademis digunakan syarat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya seperti selama ini. Pernahkah terlintas di benak kita menerima rapor tanpa angka?

Saya membaca sebuah referensi terkait dengan rapor di negara lain. Apa saja yang termuat di dalam rapor? Pertama, sampul depan tentu berisi informasi mengenai identitas anak seperti nama, kelas, Year level (Grade), dan nama guru kelas. Kemudian badan rapor terdiri atas satu halaman profil performa anak dalam semua mata pelajaran, diikuti deskripsi atau paparan kualitatif mengenai performa anak secara umum, yang ditulis oleh guru/wali kelas. Setelah itu beberapa halaman berikutnya menguraikan performa anak di beberapa mata pelajaran, ditulis oleh guru masing-masing bidang studi.

Profil performa siswa ini tidak memakai angka sebagai indikasi pencapaian siswa, namun menggunakan huruf A, B, C, D, E yang disertai diagram yang menunjukkan posisi kemampuan siswa relatif dibandingkan standar yang diharapkan untuk dikuasai di year level tertentu. Rating A-E ini tentunya juga ada keterangannya. Jika performa anak sesuai dengan standar capaian yang diharapkan untuk Year level tersebut, maka anak mendapat C. B artinya di atas standar, A artinya jauh di atas standar. D artinya di bawah standar, dan E jauh di bawah standar.

Di samping profil performa akademik, lembar ini juga memuat informasi mengenai kebiasaan bekerja (work habit) anak di sekolah. Kebiasaan bekerja ini meliputi usaha (effort) dan perilaku di kelas (class behaviour), yang penilaiannya berkisar dari 1 yaitu need attention (butuh perhatian) hingga 5 yaitu excellent (istimewa).Tidak ada informasi mengenai peringkat anak, baik tertulis maupun lisan. Lebih tepatnya memang tidak ada pemeringkatan berdasarkan performa akademik anak. Namun ada penghargaan yang disebut “Principal Award” yang diberikan kepada lima anak di setiap kelas. Award ini berupa sticker yang ditempel di rapor untuk lima anak di kelas tersebut yang memberi pengaruh positif kepada teman-temannya baik melalui capaiannya, usahanya, maupun perilakunya. Jadi tidak melulu berdasarkan prestasi akademik.

Rasionalisasi Rapor

Rapor secara etimologi menurut KBBI daring berarti laporan resmi (kepada yang wajib menerimanya). Laporan hasil belajar dari proses pembelajaran semester 1 tahun pelajaran 2020/2021 baru saja berakhir. Masih terbayang di benak siswa perjuangan dalam belajar selama semester 1 yang dilaksanakan secara daring. Masih hangat diingatan 6 bulan yang lalu masuk sekolah sebagai siswa baru . Saat ini pun serasa masih baru karena jarang ke sekolah bahkan tak terbiasa bertegur sapa dengan guru secara langsung. Ada sebagian yang puas dengan nilai yang ada namun tak sedikit yang gemas dan kecewa dengan hasil yang didapatkan. Deretan pertanyaan atau ketidakpuasan menjadi euphoria yang tercipta di masa terima rapor ini. Sebuah deretan angka sebagai representasi dari substansi kepintaran anak dalam bentuk cetakan angka.

Jika kita mengacu pada teori kecerdasan jamak, multiple intelligences tidak dapat kita pungkiri realitasnya manusia itu memiliki berbagai kemampuan yang berbeda satu sama lain. Terlepas dari semua wacana itu, sistem pendidikan dan kurikulum saat ini harus diikuti terlepas ada kekurangan dan kelemahan namun pasti ada pertimbangan khusus oleh pemangku kebijakan. Namun bukan harapan naif bila suatu saat ada perubahan untuk mengakomodasi potensi global yang dimiliki anak-anak masa depan.

Mari kita refleksikan bersama kutipan berikut ini.

 “Siswa-siswa di manapun berada...,”

Kami berharap kamu mengerti bahwa sebuah tes tidak selalu menguji semua hal yang membuat kalian spesial dan unik. Orang-orang yang menciptakan tes serta menentukan skor kalian tidak tahu tentang diri kalian seperti halnya guru-gurumu tahu tentang kalian; apalagi seperti halnya keluargamu mengerti tentang kalian. Mereka tidak tahu bahwa banyak di antara kalian yang bisa berbicara dua bahasa atau lebih. Mereka tidak tahu bahwa kalian bisa memainkan berbagai alat musik bahwa kalian bisa menari atau melukis. Mereka tidak tahu bahwa teman-temanmu dapat mengandalkanmu saat mereka rapuh memerlukan bantuanmu, dan candaanmu bisa mencerahkan hari yang paling suram dalam sepotong waktu di hidupnya.

Mereka tidak tahu kamu bisa menulis puisi atau lagu, bermain sports, berfikir tentang masa depan, atau kadangkala kamu membantu orangtua menjaga adik-adikmu. Mereka tidak tahu kamu sudah pernah berkunjung ke banyak tempat dan kamu bisa menceritakan sebuah kisah hebat, atau kamu sangat bahagia berkumpul dengan keluarga dan teman-temanmu. Mereka tidak tahu bahwa kamu orang yang bisa dipercaya, baik hati, berhati-hati dalam bertindak, dan kamu selalu berusaha untuk menjadi  dirimu yang terbaik setiap harinya. Skor-mu dalam rapor ini memberitahu sesuatu tentang dirimu tetapi tidak memberitahu segalanya tentangmu. Ada banyak cara untuk menjadi pintar. Hidup ini akan banyak pilihan untuk menjalani sampai titik di akhirnya.

Salam Merdeka Belajar…Safe stay.

                                                                Penulis: Sumarjiono

                                                                Laskar Merdeka Belajar Tanpa Batas